Ummu Diana Raih Juara Millenial Vlog Competition

Ummu Diana Munawwarah berhasil meraih juara Millenial Vlog Competition Katagori Kritik yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan, dan menerima penghargaan dari Bupati Pamekasan, Badrut Tamam di Mandhepa Agung Ronggosukowati, Jl Pamong Praja Nomor 1 Pamekasan.

Mahasiswa Fakultas Tarbiyah Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI), mengkritisi beberapa program yang notabene menjadi prioritas pembangunan pemkab Pamekasan di bawah kepemimpinan pasangan Bupati dan Wakil Bupati Pamekasan, Badrut Tamam dan Raja’e melalui tema otokritik ‘Polemik 2 Tahun Kemepimpinan Bupati dan Wakil Bupati Pamekasan’.

Setidaknya terdapat tiga jenis kritikan berbeda yang dilayangkan untuk Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan, khususnya di bawah kepemimpinan pemimpin muda milenual, Badrut Tamam dan Raja’e. Meliputi kritik untuk bidang pendidikan, ekonomi hingga kesejahteraan masyarakat.

“Dalam dua tahun terakhir, Kabupaten Pamekasan dipimpin oleh bupati dan wakil bupati muda dengan beragam penghargaan, salah satunya penghargaan The Best Communication IVL 2020. Namun tidak ada gading yang tidak retak, sebab ada beragam polemik dan tidak banyak orang tahu,” kata Ummu Diana Munawwarah.

Memang dalam dua tahun memimpin, pasangan Badrut Tamam dan Raja’e berupaya maksimal untuk meningkatkan sektor pendidikan. Salah satunya melalui program beasiswa bagi santri kurang mampu dan berprestasi, bahkan juga sudah direalisasikan beberapa waktu lalu.

Hanya saja terdapat hal dalam sektor pendidikan yang justru lepas dari pandangan pemerintah kabupaten, khususnya dalam memaksimalkan beragam sarana penunjang sektor pendidikan. “Misi bupati dan wakil bupati Pamekasan adalah pendidikan, namun ada beberapa hal yang justru terlupakan. Salah satunya keberadaan musium (tidak terawat dan terbengkalai),” ungkapnya.

“Tidak banyak yang tahu bahwa Pamekasan memiliki musium daerah yang diresmikan oleh Bupati Kholilurrahman pada 2010, padahal keberadaan musium adalah hal penting bagi dunia pendidikan, bagaimana kita mengetahui soal sejarah, peninggalan sejarah hingga perjalanan kabupaten Pamekasan dalam lintas sejarah,” jelasnya.

Tidak hanya soal pendidikan, sektor lain yang juga dinilai lepas dari pantauan pemerintah adalah maraknya tambang ilegal di kabupaten Pamekasan. “Saat ini sekitar 350 tambang ilegal tersebar di berbagai titik di Pamekasan, di mana 90 persen milik pribadi dan 10 persen sisanya milik perusahaan yang hingga saat ini belum menemukan titik terang,” imbuhnya.

Tidak kalah bermasalah dengan persoalan tambang atau galian, hal serupa juga terjadi pada sektor komuditas tembakau yang memang menjadi salah satu ‘tumpuan’ bagi sebagian besar masyarakat Madura, khususnya di kabupaten Pamekasan. “Dalam mewujudkan kesejahteraan ekonomi, serta terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah. Ekonomi sangat penting bagu tatanan kehidupan masyarakat,” ungkap Diana.

“Pamekasan sebagian besar masyarakat-nya berprofesi sebagai petani dan sangat tergantung pada harga tembakau, namun realitanya harga tembakau dari tahun ketahun terus merosot. Pertanyaannya bagaimana peran pemerintah dalam hal ini,” tanya mahasiswa asal Desa Angsanah, Kecamatan Palengaan.

Dalam kegiatan Millenial Vlog Competition yang digagas Pemkab Pamekasan, terdapat dua jenis katagori berbeda yang dilombakan dalam rangka memperingati 2 Tahun Kepemimpinan Bupati Badrut Tamam dan Wakil Bupati Raja’e. Meliputi katagori apresiasi dan kritik.

Untuk pemenang MVC Katagori Apresiasi diraih Ahmad Suyitno (Pesenan), disusul Moh Ridwan Saidi (Durbuk, Pademawu), Moh Rofiq dan Wiwin Indarwati, serta Dewi Ratnadi (Bangkes, Kadur) sebagai juara favorit. Sementara untuk katagori kritik diraih Ummu Diana Munawwarah (Angsanah), Al-Azzam Production (Akkor), Fahrur Rosi (Jarin, Pademawu), serta Fajar Firmansyah (Tlanakan). [adm]