Abdul Gaffar Sandang Status Doktor

Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan, kembali menambah jumlah dosen dengan status doktor setelah adanya salah satu dosen, Abdul Gaffar dinyatakan tuntas menyelesaikan proses sidang disertasi terbuka (promosi doktor) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (24/2/2021).

Pada sidang promosi doktor tersebut, Abdul Gaffar mengangkat judul disertasi ‘Aktualisasi Diri Menurut Bediuzaman Said Nursi (1877-1960) dalam Risalah An-Nur’. Di mana hasil karyanya mampu dipertahankan di hadapan tim penguji dengan beragam temuan akademis, serta menunjukkan kegagahan akademik memakau.

Dalan sidang yang juga dilakukan secara virtual, Abdul Gaffar mempertahankan hasil disertasi di hadapan empat orang penguji, Prof, Hilman Latif, MA., Ph.D., Prof. Dr. Muhammad Azhar, M.Ag., Dr. Ustadi Hamzah, M.Ag., serta Dr. Mahli Zainuddin, M.Si.

Termasuk juga dua orang promotor, yakni Prof. Dr. Alef Theria Wasim, MA., dan Dr. Hamim Ilyas, M.Ag., serta dua pimpinan sidang disertasi terbuka, yakni Ir. Sri Atmaja P. Rosyidi, M.Sc.Eng., Ph.D (Ketua Sidang), serta Dr. Aris Fauzan, MA (Sekretaris Sidang).

“Alhamdulillah dengan segala kerendahan hati, capaian ini sudah kami lewati dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentunya kami sangat berterima kasih kepada kedua orang tua, civitas akademika IAI Al-Khairat, serta para kolega yang tanpa henti memberikan support selama ini,” kata Abdul Gaffar.

Dalam sidang disertasi terbuka atau promosi doktor Program Studi (Prodi) Doktor Psikologi Pendidikan Islam Program Pascasarjana UMY, Abdul Gaffar memaparkan konsep diri Said Nursi memiliki kontribusi akademik dalam pengembangan keilmuan psikologi pendidikan Islam.

“Menurut Said Nursi, dalam diri manusia terdiri dari beberapa kodrat yaitu Kodrat Rabbani, Ruhani, Jasmani dan Nafsani. Kempat kodrat tersebut berdampak pada hirarki pemenuhan kebutuhan hingga menuju kebutuhan puncak yang bersifat spiritual,” ungkapnya.

Menariknya, karya disertasi pada bagian epistemologi menyimpulkan Said Nursi sebagai pencetus ‘Kerajaan Ana’ yang tercover dalam makna-i ismi dan makna-i harfi. ‘Secara epistemologis, aktualisasi diri versi Said Nursi berbeda dengan tokoh-tokoh lain seperti Imam Al-Gazali, ketika kami coba kaji lebih pada epistemologi kerajaan hati meski pada esensinya sama,” jelas pria kelahiran Pamekasan.

“Dalam aktulisasi manusia diwujudkan pada peran dalam kehidupan, di antaranya sebagai Khalifah, Hamba, pribadi, anggota keluarga, serta warga negara. Secara emosional, pemikiran Said Nursi pada aspek pengembangan diri sangat dekat dengan tipikal warga Indonesia, apalagi kahir-akhir ini memang memerlukan revolusi spiritual” tuturnya,” pungkasnya. [adm]