Internalisasi Budaya Asing dalam Kehidupan Pesantren

Oleh: Lu’luatus Zubaidah*

Budaya adalah ciri atau identitas dari sekumpulan orang yang mendiami wilayah tertentu dan timbul dari perbuatan yang dilakuakan oleh masyarakat secara berulang-ulang. Sehinga membentuk suatu kebisaan yang pada ahirnya membentuk sebuah tradisi berkelanjutan di masyarakat.

Budaya yang telah terbetuk akan masuk dan mengakar di dalam kehidupan manusia, tanpa disadari budaya ini telah mempengaruhi prilaku masing-masing individu dan masyarakat yang pada ahirnya manusia akan didikte oleh budaya itu sendiri.

Perilaku manusia yang dipengaruhi oleh budaya dalam berintraksi dengan manusia lain dapat dilihat ketika mereka sedang bersosialisasi. Saat ini kita hidup di zaman yang serba canggih, semua aspek kehidupan telah disentuh oleh teknologi. Salah satunya aspek komunikasi dengan menggunkan hand phone sebagai alatnya.

Komunikasi merupakan suatu hal yang urgent dalam kehidupan, jarak jauh bukan menjadi penghalang bagi manusia untuk melakukan komunikasi. Diciptakannya hand phone membuat manusia mudah berkomunikasi, sehingga terbentukalah budaya media sosial sekaligus menandakan bahwa kemajuan IPTEK membuat manusia kini lebih memilih bersosialisasi melalu media.

Akibatnya mereka menjadi pasif terhadap lingkungan, sebab keberadaan alat komunikasi seperti hand phone justru memiliki kecenderungan dapat mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Dengan kata lain semakin mengikis tradisi silaturahim yang selama ini sudah berlangsung cukup lama dan menjadi bagian dari ajaran agama.

Selain itu, budaya juga mempengaruhi manusia dalam mengambil sebuah keputusuan dalam prilaku konsumsi. Berkembangnya industri akibat teknologi membuat perusahaan memproduksi secara massal dan relatif murah dan perkembangan ini sangat mempengaruhi kebudayan manusia di Indonesia yang awalnya agraris menjadi masyarakat perkotaan.

Kondisi tersebut mengakibatkan terciptanya tata nilai baru dan pola hidup baru akibat ‘imbas’ dari gaya hidup masyarakat perkotaan, kebutuhan akan terus bertambah semata-mata untuk memuaskan kehidupan barunya yang membutuhkan produk-produk baru dan beberapa jasa. Salah satunya akibat faktor masuknya budaya asing ke Indonesia yang disebabkan oleh berbagai hal, di antaranya:

Pertama, kurangnya penjagaan yang terjadi di wilayah gerbang di Indonesia. Gerbang wilayah Indonesia  sepertinya kurang adanya badan seleksi khusus yang bisa menyeleksi budaya-budaya asing negatif yang masuk ke Indonesia. Seperti banyaknya gambar dan video porno yang didatangkan dari luar, termasuk beberapa jenis narkoba yang datang dari negara asing.

Kedua, lifestyle (gaya hidup) kebarat-baratan yang mulai identik dengan masyarakat Indonesia yang meniru lifestyle orang-orang ‘bule’ atau lebih berkiblat kebarat-baratan, seperti melakukan SEX bebas, berpakaian mini, gaya hidup bebas tanpa ikatan atau biasa kita sebut kumpul kebo. Ketiga, menyalahgunakan tekhnologi, seperti halnya menggunakan situs internet untuk mengakses situs porno, melakukan penipuan dan lain sebagainya.

Ironisnya, hal tersebut justru dianggap remeh oleh mayoritas masyarakat Indonesia, sehingga beranggapan hal tersebut adalah suatu hal yang trendy dan harus diikuti. Mereka tidak menyadari bahwasanya budaya barat atau budaya asing telah menggeluti kehidupan mereka dan menyebabkan kekacauan dalam hidup mereka.

Seharusnya sebelum kita menyerap budaya orang lain, kita mencoba mengenal budaya kita sendiri yang sebenarnya sudah sangat maju sejak berabad-abad yang lalu, yaitu pada masa Rasulullah SAW. Akan tetapi masalah yang ada pada saat ini adalah ketika budaya yang baik dinggap kuno dan seakan-akan ada stigma masyarakat yang mengatakan kalau kita tidak mengikuti trend masa kini, justru dianggap sebagai orang yang kampungan dan tidak gaul.

Padahal seharusnya kita selaku umat Muslim berpegang teguh pada al-Qur’an dan al-Hadist yang telah di perintahkan oleh Rasullah, serta tidak terpengaruh oleh internalisasi budaya asing yang tengah merajalela di kehidupan kita yang sangat memprihatinkan.

Selain beberapa faktor global di atas, terdapat juga beberapa faktor lain yang menyebabkan rusaknya budaya Islam akubat masuknya budaya Barat ke dalam dunia Islam. Di antaranya kurangnya keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, serta minimnya ilmu pengetahuan terutama ilmu syari’at Islam merupakan penyebab utama masuknya budaya asing yang bersifat negatif dalam budaya Islam.

Salah satu contoh saat kita ditanya kapan hari Valentine? maka akan dengan cepat orang menjawab kapan dilaksakannya hari Valentine terutama di kalangan remaja. Berbeda halnya jika kita yang mengaku generasi Muslim ditanya mengenai kapan terjadinya peristiwa Nuzulul Qur’an? Apa itu idul Adha dan bagaimana sejarahnya? mungkin akan lebih sedikit umat Islam yang mau menjawab pertanyaan itu diibandingkan dengan jumlah penjawab petanyaan mengenahi hari valentine.

Allah SWT telah berfirman dalam al-Qur’an:
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka.  Katakanlah : “Sesunggunya petunjuk allah itulah petunjuk  (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemuan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”

Mengacu pada ayat tersebut, pada dasarnya orang Yahudi dan Nasrani tidak hanya merusak budaya kita, tetapi mereka juga selalu menggunakan daya dan upaya mempengaruhi kita melalui berbagai cara yang justru kita anggap sebagai sesuatu yang sepele. Seperti beberapa hal berikut:

Pertama, menggunakan makanan dan minuman yang telah dicampur dengan zat-zat yang haram ke dalamnya untuk menghacurkan kaum Muslim agar remaja muslim lebih mencintai produk mereka dari pada hasil dalam negeri. Hasil laba yang diperoleh mereka sisihkan untuk pembangunan gereja serta penyerangan umat muslim lain yang berada di negara berbeda, misalnya di Palestina dan Rohingya.

Kedua, mengguanakan promosi pakaian dan mode yang berhubungan erat dengan aksi porngrafi dan  pornoaksi. Ketiga mempengaruhi melalui hura-hura dalam mencari kesenangan dan kebebasan dunia, misalnya melalui konser musik yang terus berujung pada perzinaan.

Budaya Asing dan Pesantren
Pesantren merupakan tempat pendidikan yang seringkali dianggap tradisional dan menekankan pada aspek spiritual, bahkan juga disebut sebagai sebaik-baiknya tempat di dunia. Karena para santri (siswa pesantren) tidak tinggal bersama orang tua mereka, mereka justru tinggal bersama para guru yang biasa disebut ustadz dan kiai yang bertugas membimbing para santri untuk memberikan pelajaran jasmani dan rohani.

Dunia pesantren cenderung dipahami masyarakat sebagai dimensi yang tidak berubah, kental dengan kefanatikan, kemandegan hingga disebut sebagai ‘penjara suci’. Sifat pendidikan pesantren 24 jam (full day school) dengan dinamika kehidupan nyaris berdenyut tanpa henti, kecuali saat jam tidur.

Bahkan jadwal bangun hingga tidur para santri sudah diatur oleh pihak pesantren, semua santri wajib mengikuti tata tertib yang sudah ditetapkan. Sekalipun tidak menutup kemungkinan ada sebagian santri yang berani melanggar aturan yang sudah ditetapkan pesantren.

Jenis pelanggaran tersebut tidak lepas dari adanya pengaruh budaya asing atau budaya Barat, semisal ditemukannya kasus santri membawa hand phone di pesantren. Sekalipun pada dasarnya hand phone bermanfaat sebagai alat komunikasi, justru mereka alih fungsikan menjadi sesuatu yang dipergunakan untuk melakukan tindakan terlarang. Seperti menghubungi sang pacar yang seringkali terciduk oleh keamanan pesantren.

Padahal seyogyanya budaya pacaran itu adalah budaya asing yang masuk ke Indonesia, dan sebagai bagian dari budaya global. Hal ini terjadi karena minimnya filter dan akhirnya banyak yang ikut terjerumus dalam budaya tersebut karena pacaran tidak lain adalah perbuatan dosa yang ujungnya akan mendekati pada zina yang merupakan dosa besar. Padahal pelarangan santri membawa hand phone dimaksudkan agar santri lebih fokus dalam kegiatan belajar.

Kasus lainnya adanya hubungan sesama jenis dalam dunia pesantren, hubungan terlarang tersebut tidak ada dalam Islam. Ketika berbicara hubungan sesama jenis di pesantren seakan-akan tidak ada habisnya, budaya ini juga merupakan salah satu budaya yang diadopsi dari budaya asing. Hal ini suatu hal yang logis karena di satu sisi pesantren merupakan tempat menimba ilmu agama untuk mempersiapkan generasi Islami yang berkahlak mulia, namun di sisi lain kita menemukan praktek hubungan sesama jenis yang ada didalamnya.

Banyaknya kasus penyimpangan dalam kehidupan pesantren yang disebabkan budaya global yang diadopsi dari budaya asing, khususnya dunia pesantren yang sudah terimplikasi penyimpangan. Seharusnya kita lebih sadar bahwa kita umat Islam punya budaya dan budaya itu harus kita lestarikan, bukan malah berpaling pada budaya asing yang sebenarnya dirancang oleh mereka untuk menghancurkan generasi Islam.

Banyak hal yang bisa dilakukan, mulai dari menerapkan kebiasaan-kebiasaan dan akhlak Islami dari berbagai hal yang cenderung terbilang kecil dan sepele. Tentunya diawali dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan kita. Semoga kita lebih sadar dan mawas diri.

*Mahasiswa Prodi BKPI Semester 3

Leave a Reply

Your email address will not be published.