Untuk Apa Berpuasa?

“WAHAI orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu. Agar kamu bertakwa,” QS Al-Baqarah: 183.

Ayat tersebut merupakan salah satu perintah bagi setiap muslim yang beriman agar melaksanakan ibadah puasa selama bulan Ramadan, sekaligus menjalankan salah satu dari lima rukun Islam.

Namun puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga semata, sebab jika hal itu terjadi justru kita akan terjebak terhadap dimensi fisik belaka. Padahal puasa substansinya lebih condong pada dimensi kejiwaan atau lebih tepatnya memadukan dimensi fisik dan kejiwaan.

Hal itu selaras dengan apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallama; “Begitu banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan haus belaka,” al-Hadits.

Dari dua dalil penting tersebut mungkin kita sudah bisa mengambil kesimpulan sendiri, untuk apa kita diwajibkan berpuasa. Terlebih kewajiban tersebut hanya dilakukan sebulan penuh selama Ramadan.

Secara umum perlu digaris bawahi bahwa kehidupan manusia modern, termasuk di Indonesia. Ternyata sudah menyeret manusia pada suatu situasi dan kondisi yang runyam, aktivitas dalam segala bentuknya justru menjurus pada hal yang semakin rumit secara berkesinambungan. Baik secara individual, sosial maupun spiritual.

Bahkan begitu banyak penyakit individu yang bersifat fisik maupun kejiwaan maupun moral yang diderita manusia modern hingga membuat para penderita semakin banyak dari tahun ke tahun. Termasuk juga meningkatnya peredaran berbagai jenis obat-obatan yang dijual umum, mulai dari obat penyakit fisik hingga obat penenang yang justru tidak jarang disalah gunakan. Hal itu jelas menunjukkan gejala yang semakin meluas.

Penyakit sosial yang mulai menyebar tak terarah sebagai dampak kehidupan yang semakin individual, krisis bangsa ini penyebab utamanya adalah penyakit moral yang sudah bisa dikatagorikan kronis dan tidak hanya mereka yang melakukan tapi juga mereka yang tidak ikut serta.

Tidak jarang saat ini banyak orang mencari ‘pelarian’ untuk menenangkan batin atas berbagai problematika hidup mereka, terbukti dengan banyaknya tempat hiburan sampai kegiatan meditasi. Manusia modern benar-benar berada dalam situasi kritis, mereka cenderung terjebak dengan konsep arifisial yang mereka buat sendiri. Mereka ingin hidup serba instan yang sebenarnya justru menjerumuskan mereka terhadap berbagai persoalan yang sulit dipecahkan.

Lantas apa solusi mengatasi persoalan tersebut, jawabannya hanya satu: puasa. Ibadah ini sudah didesain oleh Sang Maha Pencipta dan Maha Bijaksana untuk mengantisipasi persoalan masyarakat modern.

Hal itu juga bisa menyelesaikan berbagai persoalan dari berbagai aspek, mulai dari aspek individual, sosial hingga spiritual sekaligus. Namun tepenting, seharusnya kita harus terlebih dahulu memahami impelementasi dari puasa seperti yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sehingga ibadah puasa yang kita lakukan benar-benar sesuai dengan tujuan dari puasa sendiri dan tidak hanya sebatas mendapatkan haus dan dahaga semata, seperti yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Begitu banyak orang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga belaka”.

Berpuasa, Lebih Baik atau Tidak?
“DALAM beberapa hari tertentu, maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu berbuka puasa), maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yakni) memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui,” QS Al-Baqarah: 184.‎

Dalam ayat tersebut terdapat hal menarik untuk disimak dengan cermat, yakni kalimat penutup berupa ‘Dan berpuasa lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui’. Hal ini jelas menjadi sesuatu yang sangat layak untuk dikaji, terlebih ayat tersebut diakhiri dengan kalimat ‘jika kamu mengetahui’. Seperti disebutkan dalam QS Al-Baqarah: 183.

Dari itu perlu digaris bawahi persoalan mengenai puasa, apakah berpuasa itu baik atau tidak. Sebab dalam ayat ‘jika kamu mengetahui’ jelas membutuhkan berbagai macam kajian tentang keistimewaan puasa, sehingga dalam firman-Nya diakhiri dengan kalimat tersebut.

Dalam persoalan ini mungkin sangat penting untuk diklasifikasikan terlebih dahulu, setidaknya untuk mencari jawaban mengenai persoalan tersebut. Pertama ada yang mengatakan lebih baik tidak berpuasa, karena kondisi badan berada dalam kondisi fit dengan makan dan minum demi aktivitas sehari-hari.

Kedua ragu-ragu, mereka merasa tidak memiliki informasi akurat tentang perbandingan puasa atau tidak berpuasa. Terlebih mereka menilai berpuasa membutuhkan kesungguhan dan niat, sehingga sangat tidak ringan. Di sisi lain, mereka menyimak informasi bahwa puasa menyehatkan.

Ketiga mereka merasa yakin bahwa berpuasa memiliki manfaat jauh lebih besar dibandingkan tidak berpuasa, sehingga mereka mengatakan berpuasa lebih baik dari tidak berpuasa.

Menariknya, poin ketiga ini sinergi dengan penegasan yang disebutkan dalam QS Al-Baqaroh: 184 jika berpuasa lebih baik ketimbang tidak berpuasa. ‘Dan berpuasa lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui’.

Sebagai orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita pastinya tidak akan ragu sedikitpun tentang kebenaran ‘informasi’ bahwa berpuasa lebih baik dibandingkan tidak berpuasa. Dalam artian berpuasa sebenarnya lebih baik dibandingkan tidak berpuasa, asalkan kita mengetahui cara-cara yang benar dalam berpuasa. Namun yang terjadi justru sebaliknya, sebagian di antara kita justru tidak mengetahui esensi dari berpuasa atau mungkin memang sengaja tidak ingin mengetahui.

Bahkan tidak menutup kemungkinan, kita menjalankan ibadah puasa justru selaras dengan apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallama; “Begitu banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan haus belaka,” al-Hadits.‎

Adanya ayat tersebut sebenarnya menjadi anjuran agar kita selalu mencari informasi dan melakukan kajian lebih banyak seputar puasa. Sehingga kita benar-benar memahami (tidak hanya sekedar paham) bahwa berpuasa memang lebih baik dibandingkan tidak berpuasa. Lantas masuk katagori yang manakah kita saat ini, apakah masuk dalam katagori pertama, kedua atau ketiga? Wallahu A’lamu! [*]